Langsung ke konten utama

TEMAN DALAM KEGELAPAN - PART II



     Sesampaiku di toko ATK akupun membuka tasku berniat ingin mengambil buku IPS yang akan di fotocopy tadi, namun apa yang terjadi begitu terkejutnya aku ketika melihat isi tasku, dimana buku IPS yang kutaruh ditas tadi? Apakah tertinggal di sekolah atau terjatuh di suatu tempat?. Pikiranku campur aduk tak terkira, tak terbayang bagaimana caraku mengganti buku IPS itu dan apa yang harus aku katakana kepada guru IPS atas hilangnya buku miliknya.

     Akupun memutuskan untuk pulang kerumah dengan anggapan semoga dirumah aku bisa berfikir lebih jernih dan bisa menemukan jalan keluar terbaik dari apa yang terjadi hari ini. Sesampai dirumah akupun disambut oleh ibuku yang sedang berbicara lewat telepon genggam dengan kakak perempuanku. “ Mah, Allhamdulillah kakak lulus ujian anastesi dengan predikat A” ujar kakak perempuanku yang sekilas terdengar olehku lewat telepon genggam. Sontak hal tersebut membuat ibuku mengatakan “Allhamdulillahirrabbil’alamin” dengan penuh rasa bangga dan haru. Kejadian tersebut membuatku lupa akan buku IPS yang hilang tadi, tapi aku tidak segan untuk mengganggu kebahagiaan ibuku jadi aku memilih untuk merahasiakan masalah ini kepadanya.

     “Assalamu’alaikum mah.. Dede pulang” ujarku. “Wa’alaikum salam de.. De kakakmu lulus ujian anastesi dengan predikat A” ujar ibuku. “Allhamdulillah mah” jawabku tersenyum sambil aku masuk kekamarku. Dikamar aku terus memikirkan buku IPS yang hilang itu sambil terus mencari-carinya ditasku, berharap ada terselip ditasku. Aku mencari-carinya terus menerus hingga tak sengaja membuatku tertidur lelap.
    
     Keesokan harinya, akupun datang kesekolah lebih pagi dari biasanya berharap bisa mencari buku IPS tersebut dengan lebih mudah. Kucari diseluruh penjuru kelas sampai akhirnya satu persatu teman sekelasku pun berdatangan hingga sempat kutanyai satu persatu apakah ada yang menemukan buku IPS tersebut. Namun apa daya usahaku pun sia-sia buku IPS itupun tak kutemukan. Akupun pergi ke ruang guru dengan keraguan yang seakan berputar dikepalaku namun ku yakinkan hati untuk melanjutkan niat ini apapun resikonya.

     Sesampai di ruang guru....

>>PART III 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DRAMA IRI DENGKI PENYEBAB FITNAH

NASKAH DRAMA Judul : Iri Dengki Penyebab Fitnah Tema : Persahabatan Jumlah Pemeran : 8 (7 Tokoh dan 1 Narator) Penokohan : Susilawati à Narator (Pencerita) Azka (Angki) à /Laki laki berumur 15 tahun yang baik, bijaksana, cerdas, tampan dan terpilih menjadi Ketua osis baru. Panji (Isna) à /Laki laki berumur 15 tahun yang jago bela diri, dan suka melindungi orang yang lemah dan terkenal sejak menjuarai lomba pencak silat tingkat provinsi. Yuda (Dixan) à /Laki laki berumur 16 tahun terlahir dari pasangan kaya raya, suka menolong dan suka bermain game online. Nadia (Widia) à /Gadis berumur 15 tahun yang sangat terobsesi dengan gadget, suka bergosip dan senang jadi pusat perhatian. Pak Wisnu (Riki) à /P...

JUMLAH TULANG PADA MANUSIA

     Tubuh manusia terdiri dari 4 komponen penting yang menjadi pembentuk tubuh, yaitu tulang, sendi, otot dan daging. tahumah anda berapa jumlah keseluruhan tulang pada tubuh manusia? Ternyata menurut ilmu anatomi, jumlah tulang pada tubuh manusia adalah 206 ruas. Jumlah 206 tulang tubuh manusia tersebut dapat di jabarkan sebagai berikut. Bedasarkan ilmu anatomi, jumlah keseluruhan tulang tubuh manusia adalah 206 ruas yang meliputi: 1. Jumlah Tulang tengkorak kepala 28 ruas   1 tulang dahi (frontal)   2 tulang ubun-ubun (parietal)   1 tulang kepala belakang (osipital)   2 tulang baji (sphenoid)   2 tulang pelipis (temporal)   2 tulang hidung(nasal)   2 tulang pipi (zigomatik)   1 tulang rahang atas (maksila)   2 tulang rahang bawah (mandibula)   1 tulang lidah (vomel)   2 tulang langit-langit di dalam mulut (platinum)   2 tulang tapis (ethmoid)   2 tulang air mata (lakrimal   2 ...

PUISI ABSURD - PART I

TEGAR Karya : Angki Perdiyana Ingin ku terlelap Namun mataku sulit tuk terpejam Ingin kulupakan sekejap Namun pikiranku melawan nan mencekam   Hatiku perlahan khawatir Anganku nan kebingungan Mengatasnamakan kepastian Yang sangat memusingkan                                   Tak ada yang tahu pasti Siapa yang dapat terpilih Mungkin aku atau mereka Tak ada yang tahu.. Namun keyakinanku                   Mematahkan putus asaku Sehingga apapun hasil yang kudapat   Takkan membuat batinku terikat